Pagi ini, karena akan pergi ke suatu tempat aku melajukan sepeda motorku perlahan menyusuri sepanjang Jalan A. Yani Nganjuk. Tak biasanya aku melajukan motorku perlahan sambil menikmati keramaian sentra bisnis di kota Nganjuk tercinta. Kenangan masa lalu, 13 tahun lalu ketika untuk pertama kalinya aku mulai mencari nafkah di Kota angin ini satu persatu berlarian di anganku. Dulu... Aku berjalan di tepi trotoar sambil melihat lalu lalang sepeda motor dan mobil dengan sebuah tanya di hati : Apakah suatu hari aku akan menyusuri jalan ini dengan motor seperti mereka ya? Dan ternyata kini tidak terasa aku sudah melakukannya... Sesuatu yang dulu tak pernah kubayangkan akan dapat kulakukan. Bagi orang lain ini mungkin hanyalah hal yang sepele, tapi bagiku ini luar biasa karena mengingat kondisi hidupku saat itu, rasanya gak mungkin bisa beli motor.... he..he..he... And then I found Mario Teguh words :
Sahabat saya yang baik hatinya,
Kenyataan hidup tidak harus seperti yang kita harapkan, asal kita tetap berupaya untuk sampai pada kenyataan yang lebih baik daripada yang kita harapkan.
Itulah yang namanya berharapan baik.
Itulah yang namanya ikhlas.
Dan itulah yang menjadikan kita jiwa-jiwa baik yang dicintai Tuhan.
Mario Teguh - Loving you all as always
He..he..he.. That's really right Mr. MT....Super!
Blog yang saya buat untuk menuangkan segala cerita kehidupan dan apa yang saya lihat saya dengar dan saya rasakan.
Kamis, 12 April 2012
Rabu, 08 Februari 2012
Ke(m)BALI lagi 6 tahun kemudian
Ini ceritaku saat kemBALI lagi setelah 6 tahun lalu aku datang ke pulau indah para dewa. Tempat wisata yang sudah lumrah jadi tujuan biro wisata kembali kudatangi, andaikan saja aku ada teman yang sehati dalam perjalanan aku ingin menjelajah Bali yang luput dari pandangan orang, mencari panorama indah yang tersembunyi, The hidden paradise of Bali tapi mungkin nggak sih?
Tanah Lot, Pantai Kuta, Pantai Sanur, Tanjung Benoa, dan Bedugul tampak masih seperti 6 tahun lalu. Untung saja aku datang saat badai Iggy belum menggila seperti saat ini, meski hujan dan gerimis terus mengikuti di setiap perjalanan. Andaikan aku ke sana akhir Januari atau Februari ini mungkin akan disambut gunungan sampah di pantai Kuta atau harus bantu-bantu petugas kebersihan. Belum lagi kapal yang harus tertunda keberangkatannya karena gelombang laut yang tinggi. Hadeeww... Kok sepertinya makin lama Bali makin tak secantik dulu ya? Seperti yang ramai diberitakan di media masa, panta Kuta sebagai ikon pariwisata Bali memang penuh sampah berserakan, baik sampah limbah alam maupun sampah manusia. Whatever, Bali is still beautiful for me. kapan-kapan aku mau datang lagi dan berenang di biru lautnya dan bermain di pasir putihnya yang lembut. Mungkin di pantai cantik lainnya yang belum pernah kudatangi sebelumnya saat kemBALI. See you Bali....! I luv you full.....!
Pura Tanah Lot di pagi yang mendung
Karang Bolong
Panorama dari atas tebing
Bermain di pantai Kuta
Sanur Bali Beach
Mendung di atas danau Beratan
Rabu, 16 November 2011
Belajar dari pohon bambu
Sudah 4 bulan ini saya dilanda masalah dan merasa galau, sedih, kecewa... Bila saya menengok kembali kepada kehidupan saya, di setiap awal kehidupan baru saya, selalu ada ujian untuk dilalui. Ketika awal menikah, ayah meninggal dan kini ibu meninggal. Sekarang pun demikian , saya menghadapi ujian yang kali ini tidak hanya bagi saya sendiri tapi juga ujian bagi seluruh keluarga besar almarhum kedua orangtua saya... Bagaimana kami agar bisa menjadi pribadi yang indah, semua akan ditentukan dari bagaimana saya bisa "menjawab soal" dalam ujian ini. Ini yang akan menaik kelaskan saya agar menjadi pribadi yang indah, baik, benar dan mulia. Lalu suatu hari saya dipertemukan dengan pemikiran bapak yang bijaksana, yang pasti kita kenal, Mario Teguh dan seorang penghayat kehidupan, pelayan sesama dan pertapa Gede Prama. Nasehat dan goresan ungkapan mereka mengarahkan hati saya agar tak menuruti emosi negatif dan mengarahkan saya pada perenungan akan makna di balik segala hal yang terjadi pada hidup saya. Berikut ini tulisan Gede Prama yang mengingatkan saya, bahwa semua ini harus saya lalui bila saya ingin menjadi indah dan baik dalam kehidupan ini :
Nyanyian-nyanyian Bambu
Di suatu waktu, bambu di hutan iri dengan nasib baik seruling.
Suaranya dikagumi orang sekaligus mewakili keindahan. Merasakan dalamnya
rasa iri bambu, seruling pun mencoba menjelaskan. “Hai bambu”, demikian
seruling memulai penjelasan. “Dulunya, saya juga bambu seperti kalian.
Sebelum menjadi seruling, kaki saya dipotong golok, badan saya
dihaluskan pisau tajam, yang paling menyakitkan dada saya dilobangi”.
Sejujurnya, demikian juga perjalanan manusia-manusia bercahaya. Tidak
ada diantara mereka yang perjalanannya hanya lurus mulus. Sebagian
nyaris terbunuh (Nelson Mandela), sebagian bahkan benar-benar terbunuh
(Mahatma Gandhi, John Lennon). Tidak adilnya, sejumlah orang mengira
kehidupan mereka tanpa godaan dan cobaan, tiba-tiba sudah mengagumkan di
atas sana.
Inilah yang kemudian dengan mudah membangkitkan rasa iri. Andaikan
banyak orang tahu betapa bahayanya jalan-jalan kehidupan di atas
sana, mungkin sebagian orang akan memilih aman nyaman menjadi
orang biasa. Namun begitulah ciri utama banyak kehidupan, serupa dengan
bahayanya strum listrik, baru percaya setelah pernah kena strum.
Ini yang bisa menjelaskan kenapa nyaris semua anak muda demikian
bersemangat dan bertenaga. Sekolah, kursus, mengikuti aktivitas
organisasi, mencari bea siswa dan segudang kegiatan bertenaga lainnya.
Intinya satu, bila orang bisa kenapa saya tidak. Keyakinan seperti ini
juga yang menyebabkan sejumlah motivator mendorong banyak orang agar
cepat kaya raya. Anthony Robbin sebagai contoh, memberi judul karyanya
dengan Awakening The Giant Within. Membangunkan raksasa yang ada di
dalam diri.
Premis orang di jalan ini jelas sekali. Pertama, tidak ada istilah
tidak bisa. Kedua, kemampuan di dalam sini tidak terbatas. Makanya
disejajarkan dengan raksasa. Ketiga, lebih tinggi kehidupan yang bisa
diraih lebih baik. Dan ternyata, bagi mereka yang sudah menua bijaksana
akan tersenyum penuh pengertian. Dalam kehidupan, ada yang bisa dicapai,
ada yang hanya layak disyukuri. Ada wilayah kehidupan yang bisa digedor
dengan kerja dan usaha. Ada wilayah kehidupan yang hanya menjadi milik
misteri.
Sampai di tingkatan ini, melarang anak muda berusaha keras tentu
bukan pilihan bijaksana. Sebagaimana cemara yang sejuk di gunung, kelapa
yang bertumbuh kokoh di pantai, biarkanlah mereka bertumbuh sesuai
dengan tingkat kedewasaannya. Namun bagi yang sudah menua, disamping
badan sudah berhenti berbau parfum, digantikan oleh bau minyak kayu
putih, mungkin ada gunanya mendengarkan nyanyian-nyanyian bambu.
Coba perhatikan bambu dalam-dalam. Ia kuat dan kokoh tanpa pernah
bisa dicabut angin. Dan alasan utama kenapa bambu kuat karena berakar
kuat ke dalam. Ini berbeda dengan sebagian manusia yang hidupnya lemah
dan keropos, terutama karena berakar ke luar (pangkat, kekayaan). Ini
memberi inspirasi, belajarlah bertumbuh dengan berakar ke dalam. Ke
dalam persahabatan dan rasa syukur atas berkah kehidupan.
Kedua, bambu senantiasa segar di segala musim. Ini berbeda dengan
kebanyakan manusia yang hanya segar bila punya uang, naik pangkat,
dipuji. Dan karena tidak ada kehidupan yang selalu kaya dan bahagia,
maka layak direnungkan untuk belajar indah di setiap langkah. Kaya indah
karena banyak yang bisa dibantu dengan kekayaan. Miskin juga indah,
karena melalui kemiskinan manusia tidak perlu takut kehilangan. Naik
pangkat indah karena penuh pujian. Pensiun juga indah. Berlimpah waktu
yang tersedia untuk diamalkan.
Nyanyian bambu yang ketiga, setelah tinggi bambu merunduk rendah
hati. Siapa saja yang setelah tinggi kemudian tinggi hati, ia sedang
menabung untuk keruntuhannya di kemudian hari. Dan puncak cerita bambu,
ketika bambu dibelah di dalamnya kosong.
Bila boleh jujur, kenapa banyak kehidupan mudah stres, marah,
tersinggung, karena di dalamnya penuh berisi. Dari harga diri, kekayaan,
sampai status sosial. Sehingga begitu ada orang yang berperilaku
berbeda dari yang diharapkan, godaan untuk marah mudah muncul. Dan bambu
mengajarkan, semua yang hebat-hebat yang membuat manusia mudah marah,
suatu hari akan berakhir dengan kekosongan.
Uniknya kekosongan, begitu ia muncul secara alamiah akan membawa
pelayanan di belakangnya. Ia sesederhana air yang membawa basah, api
yang membawa panas. Persis seperti bambu, di dalamnya memang kosong
tetapi terus menerus melayani kehidupan dengan berbagi kesegaran di
segala musim.
Kutipan nasehat lainnya :
Kutipan nasehat lainnya :
”Sadari saja ketika emosi negatif muncul, tidak usah bereaksi”, begitu
nasehat seorang guru meditasi. Begitu emosi negatif diterangi kesadaran
bahwa kita semua ingin bahagia tidak mau menderita, ia memunculkan rasa lapar
untuk menyayangi. Terutama karena kasih sayanglah yang membuat manusia
berbahagia. Ada
yang mengeluh bahwa kemarahan tidak menghilang kendati sudah berdoa. Ini tentu
bisa dimaklumi, karena manusia sudah lama sekali dalam kegelapan. Sehingga
diperlukan praktek kesadaran yang kuat dan kokoh sekali agar semua
kegelapan menghilang. Ia bisa selesai sepuluh tahun, dua
puluh tahun atau malah lebih. Bukan lamanya yang penting, namun sudah masuk ke
dalam arus kesadaran, itu pun sudah layak disyukuri.
Perhatikan apa yang ditulis Ezra Bayda dalam At Home In The Muddy Water: “May we exist like a lotus. At home in the muddy water. Thus we bow to life as it is”. Guru-guru dengan latihan mendalam juga mengalami naik-turun (sehat-sakit, dipuji-dicaci dst), namun apa pun yang terjadi dalam kehidupan tidak tersentuh. Persis seperti bunga Padma. Di air tapi tidak basah, di lumpur namun tidak kotor. Sebaliknya malah bertumbuh dan mekar di lumpur. Ini yang membuat mereka bisa membungkuk hormat kepada kehidupan apa adanya.
Perhatikan apa yang ditulis Ezra Bayda dalam At Home In The Muddy Water: “May we exist like a lotus. At home in the muddy water. Thus we bow to life as it is”. Guru-guru dengan latihan mendalam juga mengalami naik-turun (sehat-sakit, dipuji-dicaci dst), namun apa pun yang terjadi dalam kehidupan tidak tersentuh. Persis seperti bunga Padma. Di air tapi tidak basah, di lumpur namun tidak kotor. Sebaliknya malah bertumbuh dan mekar di lumpur. Ini yang membuat mereka bisa membungkuk hormat kepada kehidupan apa adanya.
Kebahagiaan memang menawan, tetapi ia tidak
mengajarkan apa-apa. Kesedihan memang menakutkan, tetap teramat banyak manusia
yang bercahaya hidupnya karena melewati segunung kesedihan.
Mario Teguh :
Mario Teguh :
Pak Mario, kapan semua masalah saya ini selesai? Adik saya
yang baik hatinya, Ijinkanlah saya mengingatkan dengan yang telah saya
sampaikan sebelumnya ... "Rencana Tuhan selalu berakhir dengan
kebaikan." Mohon Anda mengulanginya bersama saya: "Rencana Tuhan
selalu berakhir dengan kebaikan." Sehingga, Jika yang sedang Anda alami sekarang belum baik, berarti itu bukan akhir.
Jika keadaan Anda sekarang masih sulit, menggalaukan, dan penuh sakit hati,
berarti itu belum selesai. Bertahanlah. Teruslah berupaya. "Rencana Tuhan
selalu berakhir dengan kebaikan." Mario Teguh
Terima kasih Pak Gede.... Terima kasih Pak Mario....
Jumat, 04 November 2011
Air Terjun Tirtosari Sarangan
Selendang bidadari yang tersembunyi di balik perbukitan
Puas berkeliling telaga, jepret sana jepret sini, mejeng-mejeng dikit di
tepiannya. Akhirnya saya kembali ke penginapan untuk mandi ( sebenernya sih
malu karena papasan dengan ibu-ibu yang sudah wangi dan cantik, karena saya
belum mandi he…he….he… ) habisnya pagi tadi gak berani mandi…. Airnya itu lhooo
dingiiiin… banget buat kulit orang Nganjuk kayak saya yang terbiasa dengan
udara hangat.
Agak siang sedikit saya putuskan menuntaskan rasa penasaran
saya akan papan penunjuk jalan ke air terjun Tertosari Ngadiloyo di ujung barat
daya telaga Sarangan, wah…. Naluri saya bilang pasti dia cukup menarik buat
dikunjungi. Saya kompori teman menginap saya agar mau ke air terjun itu meski
kata bapak penjaga loket, lokasinya jauh dan jalannya agak sulit ( sekitar 45
menit perjalanan ), hal itu justru membuat saya makin penasaran. Akhirnya
setelah menimbang waktu dan fisik kami putuskan untuk datang ke air terjun itu, biar
hemat energi dari pintu masuk retribusi ke tepi desa terdekat dengan air terjun
kami putuskan naik bang Jack eh..ojek maksudnya, taripnya 10 ribu nganter thok,
pulangnya gampang kata bang ojeknya karena di sana juga banyak ojek atau kuda. Selain ojek
sebenarnya ada juga kuda tapi karena teman saya takut naik kuda maka kami naik
ojek ajah…
Sampai di desa menuju air terjun kami celingukan sambil
mencari-cari mana air terjunnya? Apa kita nyasar ya? Sebelum lanjut kami harus
bayar retribusi Rp 2000/ orang. Ealahhhh… ternyata kami masih harus jalan kaki membelah
areal kebun sayur sambil tengak tengok macam orang udik baru ke kota. Lalu ada bapak-bapak
mengejar kami, sambil ngos-ngosan si bapak tanya ke kami : mau ke air terjun
to? Monggo saya antarkan, sebagai uang lelahnya ya seikhlasnya saja, gitu
katanya. Ya sudah daripada kesasar kami manut saja, itung-itung buat teman di
perjalanan karena kami berdua cewek semua.
Si bapak memandu kami sambil cerita kalau air terjunnya
bagus, cuma jalannya agak jauh dan “sedikit” nanjak-nanjak katanya. Ah gak
masalah pikir kami karena kami kan
masih muda nanjak dikit masih okelah…. ( aih sombongnya….), setelah naik turun dan berbelok-belok
kira-kira setelah 4 belokan melewati kebun sayur yang menghijau kami menyeberangi
jembatan beton dan tiba di pos kecil, di sini kami bayar retribusi Rp 1000/orang.
Jujur sebenarnya kami sudah capek berjalan, kaki rasanya panas dan mulai nyut-nyutan
tapi kami tidak mau menyerah, kata si bapak tinggal separuh perjalanan kok,
rugi juga kan
kalau gak diteruskan.
Dan kami pun terus berjalan…. Bagaikan putri pelarian dari
kerajaan gak jelas mencari persembunyian, aduuuhhh mana sih kok gak sampai-sampai?
Kata bapaknya tinggal sedikit lagi cuma jalannya menanjak terus, ha…? Menanjak?
Ya ampyuuunn kaki udah pegel kok masih suruh nanjak, ya udah deh gak pa pa,
daripada rugi wong udah niat kok.
Ya Alloh Gusti…. Ternyata nanjaknya di jalan setapak berbatu
itu begitu dahsyatnya buat saya ( padahal saya ini tukang fitnes, renang and so
on…. Weleh-weleh pamernya :D ). Sampe mau putus rasanya napas, teman saya malah
sambil didorong sama bapak pemandunya karena gak kuat nanjak macam truk
kelebihan muatan.
Kami sempat 2 kali berhenti ambil napas di ujung 2 tanjakan
terberat, saya sempat kagum dengan ibu-ibu paro baya yang sanggup bolak-balik
sambil menggendong sekeranjang minuman botol. Hebat…! Andaikan saya gak harus
konsentrasi ke jalan di depan saya, pasti sudah saya jeprat-jepret tuh jalannya,
byuh..byuh… meleng dikit aja bisa glundung ampe ke titik start lagi. Setelah
nanjak terus , belok tajam, belok lagi nanjaknya masih terus ini ceritanya, kami
melihat dari kejauhan air terjunnya kelihatan putih bagaikan selendang bidadari.
Alhamdulillah kata saya….sudah dekat, eh ternyata belum masih ada beberapa
tanjakan yang harus ditaklukkan. Baiklah… melihat air terjun itu dari kejauhan
memompa semangat kami, di perjalanan kami juga berpapasan dengan rombongan
kecil yang mau turun, sepertinya hari ini tidak terlalu banyak orang yang datang
ke sini.
Akhirnya sampailah kami di tujuan : Air terjun Tertosari
Ngadiloyo, wah…wah…. Indahnya! Gak rugi kita ke sini ! Teriak kami. Paradiso
Trans7 harus meliput kesini!. Setelah cuci kaki dan muka ajaibnya seluruh penat
di badan rasanya menguap hilang. Wiihhhh airnya dingin sueger, andaikan saya
gak pas “dapet” saya pasti mandi di kolam di bawah guyuran airnya. Wong
dalamnya juga cuma sedengkul. Habis itu mejeng-mejeng narsis memamerkan
perjuangan kami. Ini dia beberapa foto-fotonya….!
Pemandangan menuju air terjun begitu indah.... bikin lupa sama kaki yang cenath-cenuth
Ngaso dulu ahhh.....Sambil mejeng bentar....
Ini baru separo jalan buuu.......!? Monggooo di lanjut....
Hutannya masih lumayan hijau.....
Nah itu lhooo... air terjunnya udah kelihatan...
kuecil banget karena masih agak jauh.
Masih ada "perjuangan berat" yang harus dilewati untuk mencapainya....
Alhamdulillah ya...... udah nyampek.....
Kolam tepat di bawah air terjun
Airnya....... sueger lhoo.....
Aneh tapi nyata! Waktu yang kami butuhkan untuk pulang ternyata hanya kurang dari separuh perjalanan kami pergi ke air terjun. Berangkatnya 1 jam-an, pulangnya cuma 20 menit-an, andaikan kami tidak khawatir ke siangan sampai ke hotel , mungkin kami tidak akan naik ojek tapi lenggang kangkung ajah.....
Jadi rincian biaya kami ke air terjun Tirtosari kira-kira :
1. Tiket masuk Rp 7.500/ org
2. Ojek Rp 10.000/org
3. Retribusi pertama Rp 2.000/org
4. Retribusi kedua Rp 1.000/org
5. Pemandu Rp 20.000 kami bagi dua
6. Jasa foto langsung jadi ada yang Rp 12.000 dan Rp 10.000 / lembar
( yang ini sebenarnya gak perlu kalo bawa kamera sendiri, cuma kami gak enak sama ibu tukang fotonya karena udah ngikutin kami sejak dari bawah, jadi minta difoto dan cetak langsung dikit-dikit).
7. Ojek pulang sampe depan hotel Rp 15.000/org.
See you in the next trip yah.... Maunya sih ke Bromo githu.... Moga aja kesampaian. Aamiiinnn....
Senin, 17 Oktober 2011
Panorama selepas subuh di tepian telaga Sarangan
Wah… tak terbayangkan sebelumnya bahwa saya akan kembali
mengunjungi sebuah telaga indah di lereng gunung Lawu yang kokoh dan anggun.
Ya… telaga Sarangan namanya, sebuah telaga ikon pariwisata kabupaten Magetan
yang telah mashyur namanya. Dulu, 7 tahun lalu saya mengunjungi telaga ini
untuk pertama kalinya, menginap di sana
dan berburu panorama pagi selepas subuh. Subhanalloh, indahnya… Namun saat itu
saya tidak dapat mengabadikannya dengan lensa kamera ( maklum masih belum kuat
beli kamera he..he..he..). Akhirnya keindahan itu hanya terekam dalam ingatan
dengan sebersit doa dan harapan bahwa suatu saat saya harus ke sini lagi dan
merekam momen indah ini.
Sepulangnya dari sana
saya kembali tenggelam dalam kesibukan hingga 4 tahun kemudian…. Alkisah pada
suatu hari di bulan Oktober 2011 secara tak dinyana saya berkesempatan untuk
berkunjung lagi ke Sarangan dan menginap di sana. Saya persiapkan diri sebaik-baiknya
layaknya tentara yang mau berperang, saya bawa kamera digital ( nah.. kalo
sekarang saya sudah kuat beli ), sepatu sandal yang nyaman biar gak lecet-lecet
merah merona kaki saya, karena rencananya saya mau keliling-keliling
segempornya di sini. Menuntaskan hasrat terpendam saya, yang sudah selama 4
tahun saya simpan ( weleh-weleh…. Kalau sekolah pasti sudah waktunya masuk
playgroup ya bu……?! ).
Akhirnya datang juga………. Ini dia hasil jepretan saya…… Enjoy
it ! :
Pagi menyapa di depan jendela
Indah bagai lukisan
Seperti di Swiss yah...!
Sebenarnya masih banyak foto-fotonya, cuman gak semua dipasang. Habisnya lama banget loading nya....
Sabtu, 15 Oktober 2011
Sugeng ambal warso....CHukahamnida....Happy Birthday...
Ulang Tahun Pertama Blog Saya......
Ya.... Alloh..... Alhamdulillah ya? ( lebay ala Teteh Syahrini :D ) Gak terasa blog saya sudah 1 tahun umurnya....... Hmmm.... tapi belum jadi "sesuatu".
Oktober....
Begitu cepatnya waktu berlari mengiringi bumi yang terus bergerak dan berputar, ya... Oktober adalah bulan saat saya pertama kali mencoba menuangkan uneg-uneg saya lewat diari dunia maya. Sebenarnya tidak bisa dibilang diari juga sih karena saya ngisinya juga gak setiap hari bahkan cuma setahun sekali. He...he...he... malesnya itu lho gak ketulungan.
Begitu banyak hal sudah terlewati dan hanya direkam di angan yang kapasitasnya terbatas, akhirnya ya sering lupa ( apa karena faktor usia yang makin tua ya..? ), mau nulis di blog ya gak sempat..... Maklum sibuk... ( halah alasan...?! ).
Apapun bentuknya, meski gak ada tamunya, gak ada istimewanya, semoga blog saya yang sederhana ini bisa menjadi ajang buat saya mengumbar uneg-uneg saya tanpa menyebabkan orang lain kecewa. Ke depannya saya harus memotivasi diri saya untuk rajin-rajin nulis, belajar menulis dan menuangkan ide, ya itung-itung buat olahraga jempol lah...
Happy 1st anniversay ya blog..... Jayalah terus di udara......
Apapun bentuknya, meski gak ada tamunya, gak ada istimewanya, semoga blog saya yang sederhana ini bisa menjadi ajang buat saya mengumbar uneg-uneg saya tanpa menyebabkan orang lain kecewa. Ke depannya saya harus memotivasi diri saya untuk rajin-rajin nulis, belajar menulis dan menuangkan ide, ya itung-itung buat olahraga jempol lah...
Happy 1st anniversay ya blog..... Jayalah terus di udara......
Emak ( ingin ) pergi haji
Alhamdulillah.... terjawab sudah penantian selama 2 tahun. Setelah melewati segala lika-liku dan persiapan materi, fisik, dan mental, akhirnya tanggal 1 November 2010, Emak berangkat juga menunaikan panggilan suci untuk menyempurnakan rukun islam bersama seorang tetangga yang tak kalah sepuhnya dengan si emak, mbah Sri demikian namanya seorang nenek yang ramah dan masih lincah untuk ukuran nenek 76 tahun. Dengan diantar oleh doa dan tangis haru segenap keluarga, sanak kerabat dan tetangga, semoga menjadi haji mabrur ya Mak....! Doakan kami semoga kelak kami pun bisa pergi menunaikan panggilan suci ini... Aamiin... Here are some of the pics :
Emakku, Alhamdulillah ya Mak... Akhirnya terwujud niat suci mu
Saya bersama Emak, doakan anakmu ya Mak semoga anakmu ini juga bisa mengikut jejak mu ke Baitullah
Emak berpamitan kepada para tetangga : minta doanya ya....
Emak bersama sahabat ( Mak Mi ) dan sebagian keluarga
Emak bersama cucu, buyut dan menantu tersayang
Namun semua itu kini hanyalah kenangan yang terindah bagi kami, keluarga Mak e. 9 bulan setelah kepergiannya ke tanah suci Mak e pergi ( lagi ) meninggalkan kami, kali ini Make takkan pernah kembali karena beliau pergi untuk selama-lamanya menghadap Sang Khalik, Sang Maha Pencipta.
Kini, setelah 100 hari kepergian Mak e ketika rombongan jamaah haji Kabupaten Nganjuk diberangkatkan ke tanah suci kenangan itu kembali muncul menghadirkan air mataku.
Selamat jalan Mak e...... Semoga engkau mendapat tempat yang mulia di sisiNya. Engkau telah menjadi suri tauladan bagi kami, bahwa hidup memang harus terus berubah menuju kebaikan. Seburuk apapun kita di masa lalu, ketika kita masih punya kesempatan berubahlah meski itu butuh perjuangan berat, meski usia tak lagi muda. Insyaalloh... Alloh akan tunjukkan jalanNya, yang kutahu satu hal dambaan semua orang beriman : Khusnul Khotimah. Seperti namamu sepulang dari tanah suci Mekkah :Hj. Umi Khusnul Khotimah.
Langganan:
Postingan (Atom)
